Teaser Say No To Golput
Mereview kembali video teaser berdurasi satu menit bertajuk “Say No to Golput” yang diunggah di Instagram. Video itu singkat, namun setiap detiknya sarat makna. Dibuka dengan adegan Nicky berjalan mantap sambil menyuarakan narasi bahwa “golput bukan solusi”, video ini dengan cepat mengantar penonton pada refleksi mendalam tentang hak pilih sebagai fondasi demokrasi. Visual sederhana namun kuat, suara yang jernih, dan pilihan kata yang tajam membuat pesan yang disampaikan terasa lebih dari sekadar ajakan.
Isi video menggambarkan kegelisahan anak muda yang merasa kecewa terhadap pilihan politik yang tersedia. Dalam adegan dialog, Putri bertanya, “Kalau semua calon nggak ideal, apa tetap harus milih?” Sebuah pertanyaan yang sangat relevan dengan kondisi politik kita saat ini, di mana sebagian besar pemilih muda merasa bahwa tak ada satu pun kandidat yang benar-benar mewakili suara rakyat. Namun, video ini tidak berhenti pada keluhan. Najwa menjawab dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, dan justru karena itulah kita perlu memilih berdasarkan nilai-nilai kebaikan dan kemungkinan perubahan, bukan kesempurnaan semu.
Melalui dialog tersebut, video ini secara halus menyentil aspek etis dalam demokrasi. Diam memang sebuah pilihan, tapi bukan pilihan yang berdampak positif sebagai pesan inti yang disampaikan. Dalam kacamata filsafat komunikasi, khususnya aspek aksiologi, tindakan golput bukan sekadar tindakan teknis, tapi merupakan cerminan dari nilai, sikap moral, dan tanggung jawab sosial individu. Ketika seseorang memilih untuk tidak memilih, ia juga sedang menunda tanggung jawab sebagai warga negara dalam merawat demokrasi. Video ini mengajak pemuda untuk tidak terjebak dalam apatisme, melainkan terlibat aktif sebagai agen perubahan melalui hak suara mereka.
Secara visual dan naratif, video ini dirancang dengan pendekatan komunikatif yang inklusif dan persuasif. Dengan menggunakan format reels yang populer di kalangan Gen Z, penyampaian pesan menjadi lebih dekat, akrab, dan relevan. Ini bukan sekadar kampanye politik, tapi sebuah bentuk komunikasi yang reflektif, menyentuh nilai-nilai keadilan dan partisipasi. Melalui pendekatan ini, terlihat bahwa kelompok 6 (Sosial & Politik) tidak hanya paham secara teknis produksi, tetapi juga memahami bagaimana menyampaikan pesan moral yang kuat melalui medium komunikasi visual.
Akhirnya, video “Say No to Golput” bukan hanya mengajak untuk datang ke TPS, tetapi juga menjadi pengingat bahwa demokrasi adalah ruang etis tempat kita menanam harapan dan nilai. Suara kita adalah wujud tanggung jawab, bukan sekadar hak. Di tengah maraknya ketidakpercayaan publik terhadap sistem politik, video ini hadir sebagai suara kecil yang berani, menyampaikan bahwa satu suara pun bisa membawa perubahan. Dalam sunyi kotak suara, ada gema masa depan yang kita pilih bersama selama kita tidak memilih untuk diam.
Link selengkapnya:
https://www.instagram.com/reel/DJN1eXmpnUr/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=ZnIxbTUyY2t4eWV3
Komentar
Posting Komentar